Komoditas Lele Dumbo dan Penularan Aeromonas

Komoditas ikan lele di Indonesia berkembang dengan pesat seiring kesadaran masyarakat akan kebutuhan gizi proteina. Produksi ikan lele di Indonesia mencapai 249.279 ton pada tahun 2009 (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2009). Besarnya permintaan masyarakat akan  ikan lele, hal ini menyebabkan banyak orang tertarik untuk membudidayakannya. Beberapa perusahaan pun turut berpartisipasi untuk menyediakan sarana produksi berupa alat, pakan, suplement, obat-obatan dan bahkan imunostimulan.

Berbagai teknik budidaya pun ditawarkan untuk mempermudah petani ikan dalam pengembangan usahanya. Sebagai contoh adalah teknik budidaya ikan dengan karamba, jaring apung, mina padi, kolam tanah, kolam permanen dan kolam  terpal. Ikan lele biasanya dipelihara secara konvensional, semi intensif dan intensif. Mengingat ikan lele mudah beradaptasi dengan habitatnya, sifatnya nocturnal, dapat dipelihara dalam  waktu cukup singkat, maka banyak pembudidaya  yang kurang memepertimbangkan kesehatan ikannya.

Pada dasarnya syarat hidup ikan lele hampir sama dengan ikan-ikan air tawar lainnya. Kebutuhan akan salinitas, pH, suhu dan kepadatan ruang mesti menjadi buah pertimbangan. Demikian halnya dengan kebersihan air. Air yang tercemar berbagai bahan buangan industri kimia atau tercemar oleh agen infeksi dapat menyebabkan kematian bagi ikan lele. Sehingga dalam budidaya ikan lele mesti mempertimbangkan pula biosekuritinya.

Disain Sistem Pemeliharaan Ikan Lele

Persyaratan lokasi, baik kualitas tanah maupun air tidak terlalu spesifik, artinya dengan penggunaan teknologi yang memadai terutama pengaturan suhu air budidaya masih tetap dapat dilakukan pada lahan yang memiliki ketinggian diatas >800 m dpi. Namun bila budidaya dikembangkan dalam skala massal harus tetap memperhatikan tata ruang dan lingkungan sosial. Budidaya lele dapat dilakukan di kolam tanah, bak permanent maupun bak plastik. Usahakan air dapat mengalir. Sumber air dapat berasal dari air sungai mapun air sumur. Suhu air yang ideal untuk pertumbuhan ikan lele berkisar antara 22-32°C. Suhu air mempengaruhi laju pertumbuhan, laju metabolisme ikan dan nafsu makan ikan serta kelarutan oksigen dalam air. Keasaman air yang ideal antara 6-9.

Bentuk kolam yang ideal untuk pemeliharaan ikan lele adalah empat persegi panjang dengan ukuran sesuai dengan lokasi. Kedalaman kolam berkisar antara 1,0-1,5 m dengan kemiringan kolam dari pemasukan air ke pembuangan 0,5%. Saringan dapat dipasang pada pintu pemasukan dan pengeluaran agar ikan-ikan jangan ada yang lolos keluar/masuk.

Usaha pembudidaya ikan lele dapat pula dilakukan di dalam keramba. Mengingat tatalaksananya mudah dan tidak membutuhkan lahan yang luas. Budidaya ikan dengan menggunakan karamba biasanya dilakukan di  danau atau di bantaran sungai/kali. Karamba dibuat dengan bahan yang sederhana misal bambu yang  di belah 2   dan di paku pada usuk utama, dengan mengatur jarak antar bambu 1 cm agar air dapat melewewatinya. Karamba di buat dalam bentuk kotak dengan ukuran kira-kira 2-6 meter persegi dengan bagian atas di buatkan pintu untuk memberi makan. Keramba ini berfungsi untuk membatasi ruang gerak ikan sehingga ikan mudah di kontrol. Dalam satu aliran sungai bisa ditempati oleh beberapa bangunan karamba. Sehingga biasanya para petani ikan membentuk satu kelompok budidaya. Ikan yang dibudidayakan dalam satu karamba terdiri dari satu jenis  dan umur yang sama.

Pada daerah yang mempunyai aliran irigasi besar. Aliran irigasi ini disesuaikan dengan kebutuhan para petani padi sesuai dengan golongan sawahnya. Biasanya warga pedesaan menggunakan air aliran irigasi sebagai sumber MCK (mandi, cuci dan kakus) serta sebagai sumber air minum dan untuk memproduksi tahu dan tempe.

Berbagai agent penyakit misal  jamur, bakteri dan virus telah dilaporkan dapat menginfeksi ikan lele. Salah satu penyakit yang belakangan ini muncul dan menyerang ikan lele adalah Motile Aeromonad Septisemia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri  Aeromonas hydrophila.  Bakteri ini banyak dijumpai  hewan berdarah dingin, hewan berdarah panas, dan manusia. Sehingga besar kemungkinan jalur penularan penyakit ini melalui air yang terkontaminasi. Diduga penyakit ini bersifat zoonosis (penyakit dapat menular dari hewan/ikan ke manusia dan sebaliknya).

Mengingat agen infeksi MAS mudah menyebar dan menginfeksi ikan lele, maka perlu dilakukan satu upaya untuk menghindari penyebaran bakteri A. hydrophila dari karamba ke kolam intensif. Tindakan pencegahan  di lakukan baik pada karamba ke kolam intensif, diantaranya adalah pengubahan prilaku masyarakat untuk menggunakan MCK sesuai syarat kesehatan, menggunakan air bebas MAS dengan membuat penampungan air yang terfilter dan desinfeksi peralatan. Selain itu melakukan program vaksinasi (Imunostimulan) terhadap MAS.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s